
Memasuki hari kedua pelatihan “Literasi Inklusif Kriya Kain Perca”, peserta tampak semakin antusias melanjutkan proses kreatif mereka. Jika pada hari pertama fokus kegiatan lebih pada penentuan desain dan pola dasar, maka di hari kedua ini mereka langsung terjun dalam proses pembuatan karya secara mendalam, mulai dari penyusunan bahan, pewarnaan, hingga tahap perakitan lurik kaca yang memadukan unsur kain perca dengan seni visual yang menarik.
Suasana pelatihan pun terasa hidup, penuh semangat dan kolaborasi. Para peserta saling bertukar ide, berdiskusi, dan membantu satu sama lain untuk menyempurnakan hasil karyanya. Pendamping kegiatan memberikan arahan teknis dan tips finishing agar setiap karya tidak hanya indah, tetapi juga memiliki nilai fungsional dan ketahanan yang baik. Melalui proses ini, semangat literasi keterampilan benar-benar terasa nyata — belajar bukan hanya lewat teori, melainkan melalui praktik langsung dan pengalaman bersama.
Menjelang akhir kegiatan, diadakan sesi presentasi hasil karya. Satu per satu peserta tampil memperkenalkan hasil kreasi mereka, menjelaskan konsep, makna, dan pesan yang ingin disampaikan melalui karya lurik kaca masing-masing. Beberapa karya menonjol karena mengangkat tema lingkungan dan keberagaman, sejalan dengan semangat inklusivitas yang diusung dalam kegiatan ini.
Dengan berakhirnya pelatihan di hari kedua, seluruh peserta membawa pulang lebih dari sekadar keterampilan baru. Mereka juga membawa semangat untuk terus berkreasi dan memaknai literasi secara lebih luas — sebagai kemampuan untuk mencipta, berbagi, dan memberi manfaat bagi lingkungan serta masyarakat. Kegiatan ini pun menegaskan kembali peran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Madiun dalam menggerakkan literasi yang hidup, inklusif, dan berdampak nyata.
Salam Literasi..
..
..
